Muhadhoroh bersama Al Habib Umar Bin Zein Bin Ibrahim Bin Smith (Madinah)

By AZHAR GALIH

Muhadhoroh bersama Al Habib Umar Bin Zein Bin Ibrahim Bin Smith (Madinah)

Dari kiri KH.M. Basori Alwi , Ustadz Abdullah Murtadlo dan Habib Umar Bin Zein bin Ibrahim bin Smith ketika mengisi muhadhoroh bersama Santri Pesantren Ilmu Al Quran

Malam ini, Ahad, 21 Juli 2019, untuk yang kesekian kalinya Pesantren Ilmu Al Quran(PIQ) kedatangan tamu mulia. Untuk kali ini, beliau adalah ahli fiqih yang berasal dari salah satu tanah haram, yakni Madinah. Nama lengkap beliau adalah Al Habib Umar bin Zain bin Ibrahim bin Smith. Beliau adalah putra mahkota dari Al Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, yang merupakan seorang Mufti di Kota Madinah. Tujuan datangnya beliau ke PIQ adalah untuk temu kangen dengan KH. M. Basori Alwi Murtadlo. Dan seperti tamu-tamu mulia yang sebelumnya, beliau juga mengharap barokah pengasuh PIQ, KH. M. Basori Alwi Murtadlo.

                Beliau datang dengan rombongan dan di antara mereka adalah penerjemah yang bernama Al Habib Haidar Mauladdawilah. Kedatangan beliau disambut oleh santri-santri PIQ dengan iringan sholawat marhaban. Kemudian, beliau menyampaikan nasihat-nasihat untuk para santri. Di awal muhadoroh, beliau mengatakan bahwasannya harusnya para santri bersyukur karena masih termasuk ke dalam golongan orang-orang mukmin dan karena masih bisa belajar ilmu Al Quran dan masih berkesempatan menjadi ahli Quran. Maka dari itu beliau menghimbau agar kita selalu membaca Al Quran dan mengamalkannya. Dan beliau juga menyampaikan bahwasannya umat muslim disebut sebagai Al Ummah Al Quraniyah. Beliau menunjukkan ketawadhuan beliau dengan menukil kalam dari Al Habib Alwi Al Haddad yang berbunyi, “Kita sesama umat Islam hendaknya saling memberikan nasihat satu sama lain”.

                Beliau juga mengatakan bahwasannya tidak ada seorang pun, bahkan mufassir sekalipun yang mampu menafsirkan seluruh makna yang terkandung di dalam Al Quran. Karena mereka menggunakan akal, sedang akal manusia adalah terbatas. Jangankan per ayatnya, per huruf dari Al Quran memiliki banyak makna. Seperti yang telah difirmankan oleh Allah di dalam Al Quran yang artinya, “ Sesungguhnya kami tidak memberi kalian ilmu kecuali sedikit”. Akan tetapi Allah memudahkannya dengan Nabi Muhammad SAW. Beliau mengatakan bahwasannya andaikata Nabi Muhammad tidak pernah mengucapkan Al Quran, maka seluruh umat tidak akan mampu mengucapkannya.

                Beliau berkata bahwasannya santri-santri PIQ beruntung bisa duduk di hadapan para ulama’ dan memiliki pengasuh yang ahli Quran dan sanadnya tersambung hingga Rosulullah SAW. Dan seyogyanya ketika ada ulama’, janganlah hanya memandangnya saja, akan tetapi memperhatikan dan mengambil pelajaran darinya. Beliau berpesan, sebagai santri seharusnya menjaga adab kepada gurunya serta menjaga hati agar tidak suudzon kepada gurunya dan agar menjadi ahli khidmad. Beliau merumuskan bahwa santri yang memiliki adab, ilmu, dan ahli khidmad sebagai orang yang beruntung. Sedangkan santri yang memiliki ilmu, tapi tak punya adab disebut santri yang kurang beruntung.

                Sebagai seorang santri, seyogyanya kita bersusah payah terlebih dahulu. Karena santri yang khusyu’ dan khidmad, ia akan menjadi ulama dan merasa takut kepada Allah. Beliau menukil syair dari Imam Syafi’i yang artinya, “Ingatlah kau tak akan memperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara, aku akan menjelaskan kepadamu dengan jelas. Memperhatikan ilmu, semangat dalam belajar, bersungguh-sungguh, ada bekal, petunjuk guru, dan masa yang lama”.

                Beliau menutup muhadoroh beliau dengan meminta doa kepada KH. M. Basori Alwi Murtadlo. Akan tetapi sebelum itu beliau meminta salah seorang dari rombongan beliau untuk membacakan sebuah qosidah. Kemudian setelah pembacaan qosidah dan doa, beliau dipersilahkan untuk jamuan khusus bersama KH. M. Basori Alwi Murtadlo di kediaman beliau.