Peletakan Batu Pertama Pesantren Tahfidh PIQ

By Ibadurrahman Al Huda

Peletakan Batu Pertama Pesantren Tahfidh PIQ

Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) yang terletak di Singosari kabupaten Malang (± 10 km utara kota malang) merupakan lembaga pendidikan kepesantrenan semi salaf yang didirikan oleh KH. M. Basori Alwi Murtadlo pada tanggal 1 Mei 1978. Sesuai dengan namanya, PIQ mempunyai spesialisasi dan prioritas pembelajaran pada Al-Quran. Hal ini erat kaitannya dengan figur KH. M. Basori Alwi sebagai seorang intelektual Al-Quran yang notabenenya juga sebagai pendiri Jam’iyyatul Qurro wal Huffadz (JQH), suatu lembaga yang banyak melahirkan cendekiawan Al-Quran di Indonesia. Hal itu juga tak lepas dari faktor demografi masyarakat Singosari yang rata-rata pesantrennya bernuansakan Al-Quran.

Sebagai pesantren yang lebih berkonsentrasi pada bidang Al-Quran, dengan metode pembelajarannya yang disebut dengan “Metode Jibril”, PIQ sering dijadikan objek comparative study dan juga tempat penelitian oleh kalangan pesantren, universitas, dan lembaga-lembaga kajian lainnya.

Namun, termasuk hal disayangkan dalam masa perkembangan yang cukup lama sekitar 40 tahun sejak berdirinya itu, ternyata PIQ masih belum mampu menelurkan embrio para penghafal Al-Quran layaknya pesantren di sekitarnya. Salah satu faktor keniscayaan itu adalah masih belum tersedianya wadah yang mampu memberi fasilitas pada santri penghafal Al-Quran dengan baik.

Hal itu terbukti pada era-90 an dalam sejarah PIQ, ternyata pernah didirikan komunitas “kecil” para penghafal Al-Quran. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Selang beberapa bulan, layaknya debu terhempas angin, komunitas itu pun hilang.

Masih dengan semangat yang sama, PIQ mencoba merealisasikan mimpinya. Setelah beberapa tahun berlalu, berdiri lagi sebuah perhimpunan santri penghafal Al-Quran. Kali ini masih bisa bertahan lama. Namun sebagaimana pendahulunya, perhimpunan ini juga berakhiran sama.

Mengingat masa lalu kian lama menjadi benalu membuat PIQ sedikit berputus asa. Hal itu membuat animo tersendiri bagi civitas academica PIQ Singosari, bahwa “menghafal Al-Quran di PIQ hanyalah sebuah keniscayaan”. Meskipun bukan demikian yang diharapkan.

Sampai pada akhirnya tepat delapan tahun yang lalu pada tahun 2010, entah kenapa tiba-tiba keinginan untuk mewujudkan cita-cita PIQ itu bersemi kembali. Dengan tekad bulat dan semangat yang lebih kuat dari sebelumnya, maka secara resmi berdirilah sebuah program khusus menghafal Al-Quran. Dengan hanya beranggotakan 5 santri, tentu bukan termasuk angka yang besar jika dibandingkan dengan jumlah santri yang mencapai ±300 santri saat itu.

Sempat terbesit sebuah keraguan, mungkin nasib program ini akan sama dengan “kakak tertua”nya. Namun siapa sangka, bahwa program inilah yang kelak menjadi cikal bakal embrio lahirnya santri penghafal Al-Quran PIQ di kemudian hari. Sama halnya dengan bayi yang baru lahir, maka sejatinya program ini masih dalam masa-masa pertumbuhan awal. Sehingga sangat perlu mendapatkan “asupan gizi” untuk membantu proses pertumbuhannya.

Sebagai penutup, dengan ucapan syukur kepada Allah Ta’ala sampai sekarang ada sekitar ±58 santri yang mengikuti program ini. Selain itu, untuk merealisasikan keinginan Bu Nyai Hj. Qomariyah, maka pagi ini dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim secara resmi KH. M. Basori Alwi memulai peletakan batu pertama Pesantren Tahfidz PIQ yang terletak di jalan Tumapel tepatnya di Zawiyah (tanah keluarga berdampingan dengan PP. Salafiyah).

Semoga mendapatkan kemudahan dan keberkahan, bermanfaat sampai akhir zaman. Aamiin.