Kiai Hamid: “Pinten hektar pondoke, Yaa Syaikh?” – Episode Kecil Perjuangan KH. M. Basori Alwi untuk Al-Quran

By Ahmad Syafiq

Kiai Hamid: “Pinten hektar pondoke, Yaa Syaikh?” – Episode Kecil Perjuangan KH. M. Basori Alwi untuk Al-Quran

Kyai Abdul Hamid

Suatu hari, Kyai Basori muda sedang tenang dalam perjalanan menuju pesanten Salafiyah asuhan K.H. Abdul Hamid, Pasuruan. Meskipun terlihat tenang, namun pikiran beliau gegap gempita. Pikirannya melayang menuju sepetak tanah di Singosari. Tanah itu rencananya akan beliau bangun pondok. Tanah itu tidak luas, hanya 300 meter persegi, namun cukup strategis karena terletak di pusat desa.

Tujuan keberangkatan Kiai Basori ke sana adalah untuk memohon barokah doa kepada Kiai Hamid, agar pesantren yang akan dibangun mendapatkan pondasi tak kasat mata yang kuat dari Kiai Hamid.

Sesampainya di sana, Kiai Hamid telah menunggu di bawah pohon mangga dekat ndalem beliau. Kiai Hamid yang memang terkenal kasyaf, tiba-tiba bertanya saat Kiai Bashori telah ada di hadapan beliau:

Pinten hektar pondoke, Ya Syaikh?
(Berapa hektar pondoknya, wahai Syaikh?)

Saat itu Kiai Bashori terhenyak. Banyak keheranan bernada ketakjuban yang berkecamuk dalam pikiran beliau.

Dari mana Kiai Hamid tahu maksud kedatangannya?

Apa makna panggilan Syaikh dari beliau?

Mengapa beliau menanyakan berapa hektar? Padahal tanah yang tersedia tak sampai sekian luasnya?

Dengan tersipu Kiai Bashori menjawab, “Namung tigangatus meter, Kiai.”

Kiai Hamid lantas mengajak Kiai Bashori untuk berdoa bersama. Kiai Hamid memimpin doa:

“Lin naf’iy wal qobuul wal jamaal wal kamaal, alfaatihah…”
(untuk kemanfaatan, penerimaan, keindahan dan kesempurnaan, alfaatihah…)

Lantas Kiai Hamid masuk ke dalam ndalem beliau. Kiai Bashori muda menduga bahwa Kiai Hamid akan kembali keluar. Kiai Bashori lantas duduk di masjid dan menunggu.

Rupanya Kiai Hamid tak kunjung keluar. Salah seorang santri pondok lantas menghampiri Kiai Bashori dan memberitahu bahwa seperti itulah kebiasaan Kiai Hamid. Dan biasanya hal itu sudah cukup.

Dengan hati lega Kiai Bashori pulang dengan hati membuncah. Entah berapa banyak biaya yang akan dihabiskan untuk membangun pesantren. Entah darimana uang itu muncul. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan. Entah tantangan apa yang menghadang. Semua itu seakan menjadi batu kerikil kecil yang mudah diterjang dengan semangat dan doa yang dibekalkan oleh Kiai Hamid.

Dan…
Beberapa tahun kemudian…
Berdirilah PESANTREN ILMU AL-QURAN (PIQ) yang sekarang.
Pesantren dengan fokus pengajaran Al-Quran.
Pesantren yang tiap tahun harus menolak banyak santri karena kapasitas tempat yang terbatas.
Pesantren yang membuat sedih para pengurus saat Ramadhan tiba, karena melihat wajah sedih puluhan pendaftar kegiatan Ramadhan harus pulang dengan tangan kosong karena kuota memang sudah penuh (perlu diketahui, kuota Pesantern Ramadhan tahun 2017 langsung terpenuhi dalam jangka waktu kurang dari 1 jam).

Dan…
Kini, dalam setiap kesempatan. Kiai Bashori tak pernah bosan menceritakan mengenai kisah beliau yang meminta doa kepada Kiai Hamid.
Saat bercerita, rona bahagia, ketakjuban, keharuan, selalu terdengar jelas dalam tiap katanya.
Betapa doa yang dulu tak sanggup beliau pahami, sekarang penafsirannya terkuak dengan skenario menakjubkan dan penuh kejutan tak terduga.

Nyatanya,
Ribuan santri tlah beliau lahirkan dengan keilmuan yang mumpuni lantas dibawa pulang dan disebarkan di kampung halaman masing-masing.

Nyatanya,
Kitab tajwid susunan beliau tlah diajarkan di Amerika Serikat oleh seorang alumni.

Nyatanya,
Buku manasik haji karya beliau tlah digunakan banyak jamaah haji dalam usaha mereka meraih haji mabrur.

Nyatanya,
Sudah ada 2 ulama; Australia yang talaqqi Al-Quran dan mengambil sanad kepada beliau untuk diajarakan di disebarkan di negara asal (yang terbaru adalah Syeikh Wissam Sa’ad, seorang penyair dan pendakwah asal Australia yang juga kepala yayasan pendidikan islam dengan murid lebih dari 2000).

Nyatanya,
Bil Qolam (metode ajar baca Al-Quran untuk pemula ala PIQ) tlah dipakai di berbagai pelosok nusantara, bahkan hingga tembus ke Malaysia dan Thailand (dalam proses).

Inikah makna doa dari Kiai Hamid?
Rupanya “hektar” yang dimaksud adalah keberkahan ini…

Dan sekarang, siapa yang tak setuju jika gelar Syaikh disematkan pada Kiai Bashori Alwi?

Subhanallah,
Inilah realitanya..
Kita semua menjadi saksi akan adanya skenario maha indah gubahan Sang Maha Sutradara, Allah Subhanahu Wa ta’ala.
Kita semua menjadi saksi bahwa impian akan menjadi suatu niscaya jika ia tak lelah diraih.

Mari kita renungkan,
Ternyata di balik sebuah impian,
Selalu menyimpan kisah perjuangan berjilid-jilid,
Selalu tersemat hikmah tak terkalkulasi,
Selalu mengandung asa yang tak lelah dibarakan,
Selalu teruntai ribuan doa dalam ribuan sujud malam dan tengadahan tangan.

Yah, seperti kata orang,
Semua butuh waktu,
Semua butuh proses,
Semua butuh perjuangan,
Semua butuh harapan,
Semua butuh doa,
Namun…
Percayalah…
Semua kan indah pada waktunya.

Semoga kita semua diberikan berkah dari Kiai Hamid dan bisa belajar dari perjuangan Kiai Bashori Alwi.
Sudi kiranya, kau berikan sejenak waktumu untuk bertawassul pada beliau berdua..

Al-Fatihah..

Tinggalkan Balasan